Kata-Ku Ep: 16 | Set Boundaries

Desember 06, 2025
Awalnya tulisan blog kali ini berjudul "Menjaga Pertemanan" tapi setelah baca buku "Set Boundaries, Find Peace" dari Nedra Tawwab, saya putuskan tulisan ini mengenai set boundaries itu sendiri.

Set boundaries sendiri memang kalau dibreak down bisa jadi beberapa tulisan blog yang lebih terperinci lagi, seperti batasan kepada diri sendiri, orang lain, teman dekat, pasangan, saudara, orang tua bahkan sampai ke teknologi. 

Ironisnya, pertama kali saya memutuskan untuk membangun batasan itu karena ada kejadian yang kurang mengenakkan. Tepatnya itu langsung berkaitan dengan batasan teknologi, karena salah satu foto saya yang ada di media sosial digunakan oleh teman kelas untuk wallpaper HP nya.

Apalagi ketika tahun 2015 itu banyak sekali asumsi dan tulisan, yang berbagai kemungkinan hal terburuk apa saja yang orang lain lakukan dengan foto pribadi kita. Sebuah foto biasa, selfie dengan pakaian sopan dibalut jacket baseball dan kacamata jadul seperti Betty la fea. Gadis 15 tahun itu pun bingung akan merespon seperti apa, kalau di tahun itu saya sudah membaca buku "Set Boundaries, Find Peace" dari Nedra Tawwab mungkin saya akan memberikan respon "saya keberatan foto pribadi saya digunakan sebagai wallpaper Hpmu, bisakah kamu menggantinya". Dari 10 tahun lalu, saya sudah mulai membatasi mana foto yang perlu dishare dan tidak, blokir sekiranya akun yang tidak mengenakan hati, dan mute akun yang mungkin tidak disukai.

Karena berbagai ketakutan akan adanya hal yang disalahgunakan, terjadilah hasil output sikap saya sampai umur 25 tahun ini. Agak takut mengungkapkan pendapat, batasan terlalu kaku atau mungkin kita nanti bisa mengetahui jenis batasan apa yang saya punya lewat beberapa pertanyaan didalam buku ini.

Belajar set Boundaries Bersama Diri Sendiri di Usia 25 tahun
Di usia 25 tahun, aku baru menyadari satu hal penting "capek" itu bukan karena terlalu banyak aktivitas, tapi karena terlalu lama mengabaikan dan tidak mengenal batasan kepada diri sendiri. 

Aku pertama kali mengenal konsep "set boundaries" dari buku Nedra Glover Tawwab yang lucunya, rekomendasi ini ada karena review sinetron yang membedah sebuah watak protagonisnya. Ini juga menjadikan buku mengenai self help atau self improvement pertama yang saya baca, ada yang pernah bilang bahwa buku self improvement kebanyakan buat ngantuk dan durasi membacanya lama. 

Tapi menurut saya, emang iya buku ini lama dibaca karena banyak hal yang perlu saya pelajari secara perlahan agar pesannya bisa tersampaikan secara halus masuk ke dalam hati dan pikiran. Cara beliau menjelaskan tentang batasan terasa jujur, tegas, tapi juga penuh empati karena kebanyakan case nya ada secara nyata dan solusinya yang sudah membantu banyak klien. 

Dari sana aku sadar, boundaries bukan cuma soal bilang “tidak” ke orang lain, tapi juga soal berani jujur pada diri sendiri.

Sebagai seorang yang terbiasa hidup di zona aman dengan rutinitas yang itu-itu saja, aktivitas yang minim interaksi, dan sering kali menghindari hal baru karena takut mengenai fisik maupun mental. Tapi di satu titik, aku sadar merasa stuck. Hidup terasa datar, tubuh terasa lelah, dan pikiranku penuh.

Boundaries Itu Bukan Dinding, Tapi Panduan
Nedra Tawwab menekankan bahwa boundaries bukanlah bentuk penolakan terhadap orang lain, melainkan bentuk perlindungan terhadap diri sendiri. Biarpun kita belajar berkata "tidak" untuk ajakan sesuatu kepada orang lain, tapi ini juga sebagai pelindung untuk diri kita dari berbagai aktivitas yang kita tidak sanggupi dan akan menyerap tenaga fisik maupun mental ini.

Dan aku mulai menerapkannya, bukan hanya dalam relasi sosial, tapi juga dalam caraku mencoba hal-hal baru. Aku mulai dari hal kecil, seperti belajar mengendarai motor, olahraga ringan seperti jalan kaki, senam, aerobik, poundfit sampai mencoba trekking di kota seberang. Jujur memang iya, sebagian besar mengikuti aktivitas ini karena pengaruh teman tapi karena buku ini saya sudah bisa membatasi mana yang lebih saya sukai dan butuhkan jadi dipastikan semua kegiatan ini tidak ada unsur ketidak enakan maupun paksaan hahahaha.

Belajar motor in this big 2025 tidak terpikirkan baru bisa naik motor, alasan nya karena selalu melihat beberapa keluarga kecelakaan ketika mengendarai motor membuat diri saya enggan untuk bisa. Tapi semua itu sirna karena, hampir 50% lamaran pekerjaan yang saya minat mengharuskan untuk bisa naik motor apalagi ada tawaran kerja di kota besar yang hangus dikarenakan saya tidak bisa mengendarai motor iya super super HEARTBREAK banget. 

Poundfit juga jadi salah satu aktivitas baruku karena pengaruh teman. Jujur, awalnya canggung, musik keras, gerakan energik, dan orang-orang yang terlihat sangat percaya diri. Tapi aku membuat batasan untuk diriku sendiri, aku tidak harus sempurna, tidak harus ikut semua gerakan, dan tidak harus terlihat “jago”. Boundaries itu memberiku izin untuk menjadi pemula, tapi karena keterbatasan waktu, tempat dan properti jadi cuma bisa mengikuti beberapa sesi latihan dan tidak untuk jangka panjang.

Jogging di pagi hari ketika lingkungan rumah sekitar masih gelap, bisa jogging atau sampai ke jalan santai juga. Tidak setiap hari, tidak harus jauh dan tidak harus selalu ketika langit masih gelap. Kadang cuma 15 menit, kadang berhenti lebih cepat karena napas ngos-ngosan. 

Hiking dan trekking yang baru aku lakukan ketika umur 24 tahun, alam ternyata jadi ruang aman bagiku. Aku belajar mengenali batas fisik kapan harus berhenti, kapan harus minum, kapan harus duduk sebentar tanpa merasa bersalah. Meskipun pas awal memang bersalah ke teman karena keseringan berhenti hahahaha.

Boundaries dan Rasa Bersalah
Sebagai perempuan, rasa bersalah sering muncul saat kita memilih diri sendiri. Nedra Tawwab membahas ini dengan sangat jujur bahwa rasa bersalah adalah bagian dari proses, bukan tanda bahwa kita egois.

Aku belajar mengatakan:
1. Tidak ikut kegiatan kalau tubuhku butuh istirahat
2. Mengatakan tidak bisa ikut meskipun kita tidak melakukan apa-apa, karena ingin me time dengan leha-leha
3. Pulangg lebih awal dari acara reuni atau buka puasa bersama
4. Menunda aktivitas baru saat energiku sedang rendah.

Set boundaries membantuku memahami bahwa aku tetap bisa mencoba banyak hal baru, selama aku tahu batasanku.

Kini, olahraga ringan, trekking, dan jogging bukan lagi tuntutan, tapi bentuk perawatan diri. Aku tidak sedang mengubah diriku menjadi orang lain. Aku hanya sedang memberi ruang untuk versi diriku yang lebih sehat secara fisik dan mental.

Dan mungkin, itulah esensi boundaries yang paling aku rasakan "hidup dengan sadar, bukan sekadar bertahan".

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.