Blog-Ku Ep: 13 | 7 hari living on my dream routines

Juli 10, 2025
Seminggu di Kota Baru Tanpa Ada yang Mengenal


Jadi ingat pembicaraan yang pernah saya ucapkan ke teman, bahwasanya "lebih baik mengobrol dan bercanda pada orang tak dikenal dibandingkan dengan yang mengenalmu lebih lama". Sebenarnya aneh ya, tapi menurut saya ini tidak. Bahkan saya bisa leluasa mengobrol apapun, menanyakan pertanyaan tanpa takut jawabannya karena apa? Karena kita tidak akan bertemu mereka lagi kecuali hari ini, momen itu dengan suasana yang sama di waktu lain.

Rasanya seperti menekan tombol reset dalam game tapi ini hidupmu sendiri. Semua bisa dimulai dari awal, tanpa label, tanpa ekspektasi, tanpa cerita lama yang membuntuti dan sebagian kenangan kelam yang biasanya orang lama bicarakan kepadamu.

Minggu lalu aku akhirnya nekat meng-iya-kan ajakan kerabat untuk menengok anaknya diluar kota selama seminggu lamanya. Tinggal di kota tanpa ada yang mengenal, oke i mean hanya 4 orang yang mengenal dan itu cuma judul rege bait hahahahah. 

Kota itu bukan kota besar penuh gedung pencakar langit, tapi cukup ramai untuk membuatku merasa anonim, meskipun 4 orang yang mengenal saya tapi ini cukup untuk memberiku kesempatan jadi orang baru di lingkungan ini.

Dan ternyata… rasanya campur aduk, antara bebas, menantang, kadang kesepian, tapi juga penuh kejutan karena excited melakukan hal yang saya inginkan.

Kedatangan
Aku tiba pagi hari jam 2 dengan bawaan dalam Tote bag yang lumayan banyak, bersamaan dengan omongan dan cemoohan dari penumpang lain yang marah karena tujuanku tidak kunjung sampai. Ya mereka berekspektasi apa pada 1 orang yang tak pernah ke kota ini bersamaan dengan 1 orang yang sudah terkenal karena kepikunannya.

Begitu melangkah keluar dari mobil travel itu, aku merasa seperti karakter utama di sinetron yang baru pindah demi mencari “makna hidup”. Bayangkan hari pertama sudah dimarahi oleh semua penumpang lainnya, kalau diputar kenangan itu memang salah saya juga karena baterai habis jadi tidak sempat menanyakan tempat ke kerabat disana.

Dini hari itu aku bersama kerabatku menunggu didepan minimarket dan menunggu jemputan sepupu. Tidak ada yang menatapku dua kali, tidak ada yang bertanya siapa aku. Kejadian ini sama seperti ketika aku pulang sekolah berjalan kaki sepanjang 2 km, aku merasa banyak skenario dikepala dan anehnya itu justru terasa menyenangkan.


Rutinitas Pagi
Aku selalu membayangkan pagi ideal seperti kehidupan impian. Yaitu bangun, jogging pagi, hirup udara baru, sekedar jalan kaki lalu membeli sayur di kios terus masak dan makan sarapan. Di kota asalku, rutinitas ini tidak akan terjadi karena berbagai alasan mau itu pekerjaan, orang-orang sekitar, atau rasa malas hahaha.

Sambil jalan pagi, aku melihat jalan sekitar melalui maps mencari tempat photo copy ya ibaratnya menyelam sambil minum air, mencari kerja maksudnya. 

Tapi di sini? Tidak ada yang mengenalku kecuali 4 orang kerabat itu. Tidak ada kewajiban sosial. Jadi aku benar-benar bisa menjalankannya tanpa takut ada yang menyapa atau judge.

Menjadi Turis di Hidup Sendiri
Pagi itu sekitar jam 6 pagi, aku jogging pagi. Hari kedua hanya membayangkan saja dan menyusun apa saja yang aku ingin lakukan. Karena di hari itu, aku hanya sekedar jalan pagi mengingat lingkungan perumahan itu. 
Maka hari ketiga, aku mulai melakukan jogging pagi ya sendirian.

Tujuannya sederhana: berkeliling kota dengan maps di hp. Deep down aku ingin merasakan tersesat, membiarkan kakiku yang menentukan arah. Setiap jogging, aku menemukan berbagai spot seperti taman kecil dengan berbagai permainan, lalu kafe atau kios terbengkalai, sungai dengan jalan kecil yang kalau melewatinya sampai was-was dan bergantian dengan sepeda ataupun motor yang mau lewat.

Di taman itu, aku duduk sendiri. Nggak ada yang mengenaliku, nggak ada yang peduli aku siapa. Aku bisa membaca, bahkan menatap sekitar selama setengah jam tanpa merasa aneh. Rasanya seperti jadi turis, tapi di kehidupan sendiri.

Ini foto-foto ketika aku jogging




Rutinitas Baru
Hari keempat aku mulai merasakan sepi. Tidak ada chat dari teman, tidak ada keluarga yang tiba-tiba minta tolong. Awalnya terasa kosong, tapi lama-lama aku sadar bahwa ini ruang yang jarang kumiliki.

Kesepian itu justru membuatku lebih peka. Aku jadi lebih sering memperhatikan detail suara langkah kaki anak kecil di perumahan, genangan air yang selalu aku lewati, bahkan ekspresi para ibu-ibu perumahan yang tertawa di depan jalan ketika aku lewat.

Tidak ada keluarga yang tiba-tiba minta tolong, oke cuma 70% benar sisanya kerabat ku meminta tolong setiap aku pulang jogging pagi untuk membeli sayuran di persimpangan jalan sebelum masuk komplek perumahan. Ini termasuk rutinitas baru bagiku karena jogging sudah jadi rutinitas jauh-jauh hari sedangkan membeli sayuran baru. Bahkan aku sempat salah membeli jenis cabai yang harus dibeli hahaha what a scene.




Rutinitas Impian Malam
Biasanya malamku dihabiskan scroll media sosial, tapi malam itu aku melakukan night ride moment mengendarai motor bahkan bersama hujan.

Saat itulah aku sadar, rutinitas impian sebenarnya tidak butuh hal yang megah. Kadang cuma butuh keberanian untuk tidak terlalu takut akan melakukan hal ini.



Hidup Tanpa Label
Di kota baru, tidak ada yang tahu aku siapa. Tidak ada yang tahu pekerjaanku atau kesalahanku di masa lalu. Aku bisa jadi siapa saja.

Hari itu aku mencoba pura-pura jadi “versi lain” dari diriku lebih ramah, lebih berani menyapa orang asing, bahkan menangis diluar pun aku lakukan. Dan ternyata… rasanya menyenangkan sekali. Seolah aku diberi kesempatan kedua untuk menciptakan ulang diri.


Pulang dengan Versi Baru
Hari terakhir, aku bangun lebih awal untuk pulang tapi sendiri tanpa kerabat. Tidak ada yang spektakuler sebenarnya—tidak ada petualangan besar, tidak ada pencapaian mencolok, hanya melakukan wish list sederhana untuk mengisi aktivitas keseharianku.

Tapi aku pulang dengan sesuatu yang jauh lebih penting, kesadaran bahwa rutinitas impian itu sebenarnya bisa dijalani di mana saja, asal aku berani mengizinkannya. Mau di kota dekat keluarga ataupun kota baru yang jauh pun tetap sama. 

Kota ini hanya membantuku melihatnya lebih jelas, sebanyak apapun mulut mereka berbicara sampai berbusa tentang pengertian mandiri sedangkan menurut kamu mandiri itu berbeda. Maka lebih yakinlah pada prinsip dan pendirian sendiri, semoga ini bisa mengamankan dan membuat kehidupanku lebih terang dan tenang tanpa paksaan.

di mobil



Tujuh hari itu mengajarkanku bahwa kita sering terjebak dengan label, ekspektasi, dan kebiasaan lama. Padahal, rutinitas impian sebenarnya sederhana, bangun dengan tenang, menulis, membaca, berjalan, memberi waktu untuk diri sendiri. Ya itu kebiasaanku pas jadi pengangguran hahahahah, setelah pulang dari aktivitas mencari jati diri ini saya ditawari kerja. Rezeki memang tidak kemana, saya dikasih waktu sendiri terlebih dari membangun rutinitas yang ingin dilakukan sebelum disibukkan oleh dunia pekerjaan.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.